Senin, 03 Februari 2020

Cara Penurunan Wahyu

Cara penurunan wahyu ada 2 cara, yakni melalui perantara malaikat dan tanpa perantara malaikat
1.     Melalui perantara malaikat. Ada 2 cara, antara lain:

a. Menampakkan wajahnya atau bentuknya yang asli (saat Al-Alaq ayat 1-5)

b. Menyamar seperti laki-laki berjubah putih (wahyu tentang iman, islam, ihsan, tanda-tanda kiamat)

2. Tanpa perantara malaikat (langsung)

a. Melalui mimpi yang benar. Misal : ketika surat Al-Kautsar ayat 1-3, dan wahyu penyembelihan Ismail yang terdapat di Surat Al-Shaffat ayat 101-112.

Allah berbicara langsung. Misal ; Wahyu kepada Nabi Musa yang tercantum dalam Surat Al-A’raf ayat 143 dan An-Nisa’ ayat 164, perintah sholat 5 waktu melalui Isra’ Mi’raj

Sejarah Ulumul Qur'an

A. Munculnya Ulumul Qur'an

Munculnya Ulumul Qur’an
    Ada berbagai pendapat ulama, antara lain:
1. Muarrikhin (ahli sejarah) , pertama kali muncul pada abad ke-7 H, pendapat ini tanpa alasan jelas
2. Imam Al-Zarqoni, bersama dengan munculnya kitab Al-Burhan fi Ulumul Qur’an karya Ali Ibrahim Ibnu Sa’id (wafat 430 H), ada 30 jilid, pertama kali di tulis tahun 5 H.
3. Subhi Sholih, yang pertama kali menggunakannya adalah Ibnu Al-Murzaban (wafat 309 H).  Didasari penemuannya terhadap kitab kajian AlQur’an pada abad ke 3 H. Hasbi Ash Shiddiqi setuju dengannya.
4. Thobaa’ thoba’i, muncul sejak awal turunnya Al-Qur’an karena sahabat telah mengenal ilmu ini, yakni 1 Hijriyah. Didasari dengan adanya larangan pembukuan Al-Qur’an dengan secabang-cabangnya.


B. Perkembangan Ulumul Qur'an

                Pada masa Nabi dan sahabat tidak ada kebutuhan mengarang buku terkait ilmu ini, karena sebagian orang buta huruf dan adanya larangan sahabat menulis sesuatu yang bukan Al-Qur’an. Orang Arab murni (sahabat) mampu mencerna dan memahami kesusastraan dan ayat-ayat Al-Qur’an. Jika mengalami kesulitan langsung bertanya pada Rasul. 

Pada masa Abu Bakar dan Umar belum ditulis, namun diajarkan secara lisan, seperti membaca dan menghafal. Pada masa usman, banyak orang arab bergaul dengan non-arab. Semua mushaf yang ditulis sahabat ditulis dengan caranya masing-masing. Dikenal dengan علم رسم القران Al-Qur’an pertama kali dicetak ada 5 buah, yaitu : di madinah, kufah, bashrah, damaskus, mekkah. 

Pada masa Ali diperintahkan Abu Al-Aswad Al-Du’ali untuk meletakkan kaidah pramasastra bahasa arab dengan nama Ilmu I’rab Al-Qur’an. Perintisnya antara lain : 1) dari golongan sahabat: khulafaur Rasyidin, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit. Ubai bin Ka’ab, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair, 2) Golongan Tabi’in di Madinah : Mujahid, Atha’ bin Yasar, Ikrimah, Qatadah, Hasan Basri, Sa’id bin Zubir, Zaid bin Aslam.

C. Generasi KeTiga Kaum Muslimin (Tabi' Tabi'in)


                    Malik bin Anas (mendapatkan dari Zaid bin Aslam), membuat ilmu tafsir. Abad ke-dua hijriyah ilmu ini berkembang dan muncul ulama, antara lain: Syu’bah bin Al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, dan Waki’ bin Jarrah. Bukunya memuat pendapat para sahabat dan tabi’in.


             Ada Ibnu Jarir At-Tobari (w. 310 H) menulis tafsir Al-Thobari. Pada abad ketiga muncul 1) Ali bin Almadani (Asbab al-Nuzul), 2) Abu Ubaid Al-Qosim Ibnu Salam (nasakh dan mansukh Al-Qur’an dan keutamaan serta keistimewaan Al-Qur’an), 3) Muhammad Ibnu Ayyub Adh-Dhoris (Kandungan ayat Al-Madani dan Al-Makiy), 4) Muhammad Ibnu Khalaf Ibnu Murzaban (Al-Khawi fii Ulumul Qur’an) Pada abad ke empat, muncul 1) Abu Bakar Ibnu Qosim Al-Bari (Ajaib Ulumul Qur’an), 2) Abu Hasan Al-Asyari (Mukhtazan fi Ulumul Qur’an). Pada abad ke-lima muncul Ali bin Ibrahim bin Sa’id Al-Khufi (Al-Burhan fi Ulumul Qur’an dan I’rab Al-Qur’an). Abad ke enam muncul 1) Abu Al-Qosim Abdur-Rahman Al-Suhaili (Mubhamat A;-Qur’an), 2) Ibnu Al-Jauzi (Funun Al Afnan fi ‘Aja’ib Al-Qur’an). Pada abad ke tujuh muncul 1) Ibnu Abdus Salam / Al-‘Izz (Majaz Al-Qur’an), 2) Alamau Ad-Din As-Sakhawi (Qiro’at). Pada abad ke-8 muncul 1) Badar Ad-Din Az-Zarkasyi (Al-Burhan fi Ulum Al-Qur’an), 2) Ibnu Abi Ishba’ (Bada’i Al-Qur’an), 3) Ibnu Qayyim (Aqsam Al-Qur’an), 4) Najmuddin Ath-Thufiy (Hujaj Al-Qur’an). Pada abad ke-9 muncul 1) Jalal Al-Din Al-Bulqoini (Mawaqi’ Al Ulum min Mawaqi’ Al-Nujum), 2) Muhammad Ibn Sulaiman Al-Kafiaji (At-Tafsir fi Qawa’id at-Tafsir, membicarakan tafsir, takwil, Al-Qur’an, surat, ayat). Pada abad ke-10 muncul ulama’ moderat 1) As-Suyuthi (Takhbir fi Ulum At-Tafsir dan Al-Itqan fi Ulumul Qur’an). Pada 3 abad berikutnya muncul 1) Syekh Tohir Al-Jazairi (At-Tibyan liba’dh Al-Mabahis Al-Muta’alliqoh bi Al-Qur’an), 2) Syekh Muhammad Jalaluddin Al-Qosimi (Mukhasin Al-Ta’wil), 3) Syekh Muhammad Abdul Az-‘Azim Al-Zarqoni (Manahil Al-Irfan fi Ulumul Qur’an), 4) Syekh Muhammad Ali Salamah (Minhaj Al-Furqon fi Ulumul Qur’an). Terakhir kitab berisi pandangan modern tentang Al-Qur’an ditulis oleh Muhammad Abdul Adh-Darosi (An-Naba’ Al-‘Azim).

Di rangkum oleh : Sri Rahayu
Dari :
Judul Buku        : Ulumul Qur'an
Pengarang         : Drs. Abu Anwar, M.Ag.
Halaman           : 7-12